3 Operasi Penyadapan Uni Soviet Terhadap AS ,Salah Satu
lewat Souvenir
Pada era Perang Dingin, Uni Soviet dan Amerika Serikat kerap
melakukan operasi intelijen dan spionase. Sejumlah agen disebar di berbagai
tempat di penjuru Negeri Beruang Merah dan Negeri Paman Sam maupun negara
sekutu keduanya.
Aktivitas itu bahkan dilaporkan telah berakar sejak
pengujung Perang Dunia II. Tujuan para intel AS dan Soviet itu beragam, mulai
dari mendulang informasi rahasia hingga menanamkan pengaruh propaganda demi
kepentingan politik bagi Moskow atau Washington.
Sebelum Perang Dingin, fungsi utama mata-mata Soviet di
Amerika Serikat adalah sebagai pos penyadapan di seluruh dunia, dengan
perhatian terbesar diberikan pada pengumpulan intelijen tentang tujuan perang
Jepang dan Jerman. Namun, dalam tradisi panjang layanan mata-mata Rusia, yang
akarnya kembali ke Peter yang Agung, mata-mata Soviet di Amerika Serikat
melakukan apa pun yang mereka bisa untuk membeli atau mencuri rahasia
Amerika—informasi ilmiah, teknis, militer, dan politik—dengan bantuan agen Amerika.
Mereka bekerja di dunia yang penuh kerahasiaan,
ketidaktahuan, dan ketakutan. Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak banyak tahu
dan kurang memahami satu sama lain sebelum dan selama Perang Dingin. Badan
Intelijen Pusat, yang didirikan pada tahun 1947, tidak memiliki stasiun di
Moskow hingga awal tahun 1960-an; direkturnya pada dekade itu, Richard Helms,
sekarang berkata setengah bercanda bahwa tidak ada berkas tentang Uni Soviet
pada masa-masa awal CIA, bahwa analis badan tersebut lebih baik melakukan penelitian
di Perpustakaan Kongres. Soviet mulai membangun berkas mereka pada tahun 1933,
setelah Presiden Roosevelt memberi mereka pengakuan diplomatik dan mengizinkan
mereka membuka kedutaan dan konsulat di Amerika Serikat. Di mana ada diplomat,
di situ ada mata-mata (seorang duta besar Soviet sebenarnya merangkap sebagai
kepala stasiun, pengaturan yang rumit). Dan berkembangnya spionase Soviet di
Amerika Serikat pada tahun 1930-an berlangsung cepat tetapi sangat rumit.
Tidak ada kontraintelijen Amerika yang bisa dibicarakan
sebelum Pearl Harbor, dan romansa komunisme Amerika kuat dalam beberapa tahun
antara kebangkitan Hitler dan pembersihan Stalin. Jaringan bawah tanah
berkembang biak seperti tanaman rumah kaca, tetapi agen dengan cepat terjerat,
dengan tiga aliran pengumpulan intelijen yang terpisah—KGB, GRU (intelijen
militer), dan Partai Komunis Amerika Serikat—bercampur aduk sehingga
menimbulkan dampak buruk.
mantan kepala badan intelijen Uni Soviet Leonid Shebarshin
menyatakan, "keberuntungan kami hanya akan diketahui setelah kami berhasil
melewati kekalahan besar. Dan kesukesan kami hanya akan diketahui paling cepat
50 tahun setelahnya".
Berikut ini 3 operasi
penyadapan intelijen dan spionase rahasia Uni Soviet --yang diklaim tersukses--
terhadap Amerika Serikat beserta koalisinya,
1.Penyadapan Empat Duta Besar AS
Hubungan AS dan Soviet langsung memburuk setelah Perang
Dunia II berakhir. Oleh karena itu, segala informasi mengenai pihak musuh
menjadi sangat berharga bagi Moskow.
Intelijen Soviet dengan sigap menyusun strategi untuk
memantau Kedutaan AS di Moskow. Dan salah satu trik yang digunakan pada kala
itu berhasil meraih kesuksesan besar.
Uni Soviet menghadiahkan sebuah replika Segel Agung (Great
Seal, lambang negara AS) untuk Kedutaan AS di Moskow. Pajangan tersebut sangat
indah sehingga Duta Besar AS tak kuasa menolaknya.
Sang duta besar yang menerima hadiah itu kemudian
menggantungkan Segel Agung tersebut di dinding kantornya.
Tanpa ia sadari, ‘hadiah’ tersebut telah terpasang sebuah
‘serangga’ elektrik, mikrofon yang diberi nama Chrysostom (atau Golden Mouth).
Chrysostom tak membutuhkan baterai. ‘Serangga’ ini hanya
berupa alat beresonansi dengan dinding depan yang fleksibel seperti diafragma,
yang akan mengubah dimensinya saat terkena gelombang suara. Benda tersebut
dikendalikan oleh sinyal radio dari gedung yang terletak di seberang kedutaan.
Berkat Chrysostom, selama tujuh tahun pemerintah Soviet bisa
mempelajari semua rencana duta besar, bahkan sebelum sampai ke meja presiden
AS. Chrysostom bertahan selama masa bakti empat orang Duta Besar AS.
Pihak AS akhirnya menyadari kehadiran ‘serangga’ tersebut
pada 1952, saat sinyal radio Chrysostom termodulasi dan menyebabkan gangguan
transmisi komunikasi kedutaan.
2.Serangga' Penyadap Intelijen di Sekutu AS
Badan Intelijen Soviet (KGB) melakukan penyadapan terhadap
para diplomat Prancis yang berdinas di Moskow sejak 1978. Penyadapan tersebut
baru terkuak saat pihak kedutaan tengah memperbaiki teleprinter mereka pada
Januari 1983.
Pada 1984, seorang teknisi dari intelejen Soviet memasang
alat penyadap pada 30 mesin ketik baru yang dipesan oleh Kedutaan AS di Moskow.
KGB juga memasang alat penyadap di gedung Kedutaan AS yang baru saat bangunan
tersebut masih dalam tahap konstruksi pada 1979.
Beberapa elemen penyadapan terpasang di dalam struktur
bangunan Kedutaan AS, sehingga sangat sulit untuk mendeteksi perangkat
tersebut. Namun, AS berhasil menemukan beberapa ‘serangga’ yang terpasang di
kedutaannya.
Belakangan, saat masa perestroika, mantan ketua KGB Vadim
Bakatin membongkar keberadaan beberapa alat penyadap yang terpasang di kedutaan
AS.
Soviet tidak membatasi penyadapan di wilayah Rusia saja.
Agen Soviet di Beirut juga memasang mikrofon penyadap di Kedutaan Inggris pada
Januari 1966. Sebulan kemudian, mereka memasang alat penyadap di markas Badan
Intelijen Rahasia Inggris (Secret Intelligence Service).
Hasilnya, pada tahun itu intelijen Soviet berhasil
mengidentifikasi lebih dari 50 agen SIS yang berada di Timur Tengah dan Mesir,
serta menguak identitas enam orang mata-mata Inggris yang menyusup ke KGB, GRU,
dan Dinas Security Service Ceko-Slovakia.
Pada akhir 1969, markas KGB di New York juga berhasil
menyadap ruang konferensi Komite Senat AS untuk Hubungan Luar Negeri. Selama
empat tahun, KGB dapat mendengarkan semua hal yang didiskusikan di sana.
Komentar
Posting Komentar