China semakin agresif dalam menyerap kelapa dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Permintaan yang tinggi membuat Negeri Tirai Bambu menjadi salah satu importir utama kelapa dunia, terutama untuk diolah menjadi santan sebagai pengganti susu dalam industri makanan dan minuman. Namun, di balik peluang besar ini,, apakah Indonesia sudah benar-benar memanfaatkan pasar China dengan optimal?
tingginya permintaan dari China mendorong harga kelapa di dalam negeri melonjak dan langka. Meski dari satu sisi hal ini menguntungkan petani, di sisi lain, ketersediaan bahan baku di dalam negeri semakin terbatas.
Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) Amrizal Idroes menyebut, ada sekitar 230 miliar biji kelapa atau 46 ribu ton hasil produksi kelapa nasional yang diekspor langsung ke China dan Thailand. Kelapa-kelapa itu, ujarnya, diekspor tanpa melalui hilirisasi di dalam negeri
Ekspor kelapa Vietnam mencatat rekor baru dengan menembus US$1 miliar untuk pertama kalinya pada 2024. Keberhasilan ini didorong oleh protokol perdagangan baru dengan China serta ekspansi pasar yang dilakukan oleh para eksportir. Data dari Bea Cukai Vietnam menunjukkan bahwa total ekspor produk kelapa meningkat 20% menjadi hampir US$1,1 miliar atau sekitar Rp Rp 18 triliun (US$1= Rp 16.325). Ekspor kelapa segar melonjak signifikan hingga 61% menjadi US$390 juta. Vietnam saat ini memiliki lahan perkebunan kelapa seluas 200.000 hektare dengan produksi mencapai 2 juta ton per tahun, di mana sepertiga di antaranya telah memenuhi standar organik AS dan Eropa. Tercatat lebih dari 600 perusahaan terlibat dalam produksi dan pengolahan kelapa di Vietnam. Secara global, Vietnam kini menempati peringkat kelima sebagai eksportir kelapa terbesar. China menjadi pasar utama dengan menyerap 25% ekspor kelapa Vietnam, didorong oleh perjanjian protokol perdagangan kelapa segar yang ditandatangani ...
Komentar
Posting Komentar