POIPET KOTA DOSA : SARANG JUDI ,SCAMMER & N3R4KA BAGI
TKI
Sudah jadi rahasia umum jika banyak warga negara Indonesia
(WNI) yang pergi ke Kamboja, dan bekerja untuk situs judi online. Cerita ini
bak menjadi momok tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang kini sedang
kesulitan mencari pekerjaan. Baru-baru ini, seorang warganet di Twitter melihat
hal yang tak biasa dari fenomena WNI bekerja di Kamboja tersebut. Pasalnya,
banyak warung khas Indonesia yang buka lapak di Kamboja. Bahkan ada warung
pecel lele, hingga angkringan yang buka di wilayah Poipet, Kamboja. Nama-nama
yang digunakan pun menggunakan nama khas Indonesia. Contohnya ada RM. Padang
Jaya, RM. Salero Raso, Mie Ayam dan Bakso Juragan, Bakso Bocil, Pecel Lele
Mantul 88, hingga Pecel Lele Bu Yayuk. Tentu warung-warung tersebut jadi tempat
singgah bagi WNI yang bekerja di Kamboja.
Di Poipet, terdapat sederet kasino dan hotel di antara pintu
pemeriksaan paspor antara dua negara Kamboja dan Thailand, yang memungkinkan
warga Thailand dan orang asing lain untuk berjudi di Kamboja tanpa perlu
melalui imigrasi Kamboja.
Perjudian adalah sesuatu yang ilegal bagi warga Kamboja,
tetapi tidak bagi mereka yang memegang paspor asing. Dari fakta tersebut,
memunculkan spekulasi berkembangnya restoran di Indonesia di Poipet berkaitan
dengan banyaknya warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi bekerja di kasino
atau bahkan operator hingga bandar judi online di Kamboja. Hal ini juga
memunculkan spekulasi bahwa Poipet merupakan markas judi online di Kamboja.
Poipet adalah salah satu kota perbatasan kasino di Kamboja.
Kota kumuh yang penuh kejahatan ini merupakan rumah bagi belasan dari sekitar
75 kasino di Kamboja. Sebagian besar kasino terletak di sepanjang jalur
perjudian di kota-kota seperti Poipet, Bavet, dan O Smach—semua tempat tersebut
berada di perbatasan Thailand dan Vietnam.
Kota itu penuh dengan turis Tiongkok dan wisatawan Thailand
yang datang untuk mencoba peruntungan. Perjudian, di luar lotere dan pacuan
kuda yang dikelola negara, adalah ilegal di Thailand. Sehingga Banyak warga
Thailand melakukan perjalanan melintasi perbatasan ke Kamboja, di mana
perjudian adalah industri legal yang menghasilkan sebanyak $2 miliar USD pada
tahun 2015—hanya sedikit kurang dari seluruh Produk Domestik Bruto negara itu
pada tahun 1995.
Tempat perjudian itu jauh dari GEDUNG mewah yang penuh uang yang terlintas di benak
Anda saat mendengar kata kasino. Jika Macau adalah Las Vegas-nya Asia, maka
kota-kota seperti Poipet adalah versi Asia dari tempat perhentian truk yang
bermunculan di sepanjang jalan raya di wilayah barat tengah Amerika Serikat
yang luas. Tempat-tempat itu adalah aula perjudian yang kumuh dan penuh asap
yang dipenuhi deretan mesin slot, permainan meja, dan para penjudi yang
memasang taruhan dengan antusiasme seperti pasien koma.
Jalanan di luar dipenuhi anak-anak jalanan yang mengemis dan
tukang rongsokan yang menarik gerobak kayu berisi sampah dan barang daur ulang.
Jalanan di luar jalur utama dengan cepat berubah menjadi jalan tanah dengan
tenda terpal kanvas yang didirikan di tengah puing-puing aspal yang setengah
jadi.
Poipet memiliki reputasi yang pantas untuk kejahatan. Di
sanalah seorang backpacker Inggris remaja disergap dan dilaporkan dibunuh dalam
perampokan tahun 2004. Atau setidaknya itulah yang orang-orang kira terjadi.
Anak itu menghilang begitu saja suatu hari dan kasusnya tetap tidak
terpecahkan. Itu hanyalah satu dari sekian banyak kejahatan besar yang terjadi
di Poipet setiap tahunnya. Seorang pengusaha Jepang ditembak mati di luar
kasino setelah menang besar. Seorang pria memukuli saudaranya hingga tewas
dengan pipa logam. Ratusan penipu internet ditangkap dalam penggerebekan di
sebuah rumah kos.
Ini adalah kota tempat sindikat penculikan menangkap
penjudi-penjudi bejat dari jalanan dan penjudi-penjudi Thailand terlantar
karena tidak dapat membayar utang kasino mereka. Ini adalah titik awal untuk
beberapa perdagangan manusia terburuk di Asia Tenggara dan tempat para penipu
menjalankan skema uang palsu .
Meja-meja blackjack penuh dengan penjudi berwajah muram.
Ruang meja itu sunyi senyap. Tidak ada musik, tidak ada tawa, tidak ada gemuruh
kegembiraan atau erangan kekalahan. Itu adalah pemandangan yang aneh, kebalikan
dari jenis pesta pora di kasino-kasino di AS dan Australia. Tidak seorang pun
tampak menikmati diri mereka sendiri. Sebaliknya, perjudian terasa palsu dan
otomatis, seolah-olah orang-orang ini ada di sana untuk memasang taruhan dan
menjaga interaksi manusia seminimal mungkin.
Situs judi online yang kini marak di Indonesia, sebagian
besar memiliki markas di Kamboja. Negara kerajaan itu memang memberikan lisensi
perjudian untuk menarik investasi. Mereka aman mengoperasikan situs judi online
tanpa ada penggerebekan, seperti banyak terjadi di Indonesia.
Situs judi online yang dioperasikan menyasar kelompok
menengah hingga bawah, mulai di bawah Rp100.000. Bahkan, tak sedikit pula yang
bertarif mulai Rp5.000.
Situs-situs judi tersebut juga berbahasa Indonesia dan
mencantumkan nomor-nomor rekening dari berbagai bank di Indonesia untuk
menampung uang deposit dari pemain judi.
Per 3 Maret 2024 lalu, Kemenlu RI merilis data peningkatan
pesat WNI yang bekerja di sektor judi berbasis teknologi daring di Kamboja.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh melaporkan
17.121 WNI yang aktif lapor diri di Kamboja per 3 Maret 2024. Namun, otoritas
Kamboja mencatat sebanyak 73.724 WNI memiliki izin tinggal di Kamboja.
Temuan tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran para
WNI di Kamboja untuk melakukan lapor diri, serta menunjukkan pesatnya
pertumbuhan WNI yang bekerja di sektor judi online. Padahal informasi, judi
online merupakan bisnis yang legal di Kamboja.
Kemudian pada Minggu (15/9/2024), Polresta Bandara
Soekarno-Hatta berhasil menggagalkan aksi tindak pidana perdagangan orang
(TPPO) ke Kamboja. Korbannya adalah 14 calon pekerja nonprosedural atau ilegal.
Dari hasil pemeriksaan, para pekerja ilegal itu mengaku
ditawari bekerja di Kamboja sebagai karyawan perusahaan dan pramusaji restoran.
Kemudian, ada juga yang mendapatkan tawaran pekerjaan
sebagai petugas operator pelayanan (customer service), hingga menjadi admin
judi online
Dalam keterangan resmi, Kasat Reskrim Polresta Bandara
Soetta, Kompol Reza Fahlevi, menyebut rata-rata mendapatkan tawaran bekerja di
luar negeri secara nonprosedural dari aplikasi layanan perpesanan Telegram.
Pada Jumat (8/11/2024), dua WNI korban praktik TPPO berhasil
kabur dari Kamboja dan tiba di Indonesia. Mereka mengaku kerap mendapat
kekerasan fisik apabila tidak berhasil menarik pemain-pemain judi online sesuai
target yang ada.
Dua WNI yang baru pulang tersebut bakal memberi kesaksian
agar pemerintah bergerak cepat membantu ratusan korban yang masih tersandera.
Mereka dipaksa bekerja sebagai admin situs judi online di Kamboja.
Di saat yang bersamaan, pada Jumat (8/11/2024), Polda Metro
Jakarta Barat membongkar sindikat jual beli rekening untuk judi online di
Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Sindikat itu menampung sebanyak 4.324
rekening selama 30 bulan beroperasi sejak 2022.
Ribuan rekening tersebut dikirimkan sindikat ke bandar judi
online di Kamboja. Disebutkan bahwa selama dua tahun dan enam bulan beroperasi,
ditemukan sebanyak 1.081 lembar resi pengiriman.
Pengakuan tersangka setiap resi itu mengirim dua unit
handphone dan masing-masing handphone berisi dua aplikasi mobile banking.
Migrant Care menyebut keberadaan rumah makan Indonesia di
perbatasan Thailand-Kamboja berbanding lurus dengan jumlah WNI yang berada di
Kamboja.
“WNI di Kamboja cukup banyak, bisa dilihat juga dari angka
pemulangan (WNI di Kamboja) yang disampaikan Kemenlu,” jelas Staf Divisi
Bantuan Hukum Migrant Care, Arina Widda Faradis,
Secara general untuk TPPO Kamboja, mereka direkrut secara
online. Pola keberangkatan tidak direct, melainkan transit ke negara lain
terlebih dahulu.
Kemudian, mereka tidak menggunakan visa, melainkan hanya
berbekal paspor yang mana WNI yg masuk Kamboja bebas visa 30 hari.
Untuk mekanisme kerjanya, mereka diharuskan mengoperasikan
beberapa device dalam satu waktu dan banyak hukuman termasuk denda atau
potongan apabila melakukan kesalahan, serta lokasi perusahaan ada penjagaan
ketat.
mereka dijanjikan gaji yang besar. Namun untuk judi online
ada yang mendapatkan gaji, ada yang tidak, ada yg menjadi utang karna denda
lebih besar dari gaji.
“Kemudian, terkait apa saja yang dialami di sana mengenai
kekerasan juga beragam,” imbuh Arina.
Semua biaya yang dikeluarkan secara umum dikeluarkan dari
perekrut yang menawari lowongan pekerjaan kepada korban karena merupakan trik
pelaku, untuk menekan korban. Sebab, jika dalam periode kerja mereka ingin
pulang, akomodasi yang diberikan akan dimintai ganti.
Data Migrant Care pada periode 2022-Mei 2024, ada 280 aduan
korban TPPO yang berujung kasus judi online dan online scam.
Sebanyak 212 di antaranya dengan negara tujuan Kamboja, 28
Malaysia, 27 Myanmar, 7 Laos, dan 6 Filipina. Dari jumlah tersebut, 229
dijadikan sebagai scammer dan 51 lainnya sebagai operator judi online.Kasus
TPPO modus judi online dan online scam mulai muncul pada 2019 dan makin marak
pada 2022 hingga saat ini.
Komentar
Posting Komentar